ratus...ribu
barangkali berjuta-juta
bukan lagi kalimat manis merayu-rayu
merenyahkan...melayukan
meraba-raba konklusi dalam kelam yang pekat hitamnya
biarpun mata pena yang mati kalanya
anggaplah ini teriakkan panjang yang tidak letih bertepik
mata yang memandang...pandanglah
lautnya tidak lagi bermanja-manja dengan teman sejatinya angin
laut berisikan darah hanyir yang bersimpang-siur keliru
langitnya selalu menangis
merintih renyai-renyai
tidak sedih...air matanya bermusim kemarau
merintih nanar...jenuh
sejuta kalut hari-harinya
malam dan siang...apa bedanya
terkapai-kapai dengan arus deras terkekeh-kekeh
bukan angan-angan hatinya
bukan cita-cita semasa gigi rongak
bangsa itu miskin banyak hal
bumbung jiwanya berlubang-lubang...bocor
lalu seruan berpanyakit diangguknya tanda patuh
terlapak kakinya tidak berlapik
berjengket-jengket melalui lorong-lorong bingung
mengintai-ngintai leka
dan bercambahlah benih jasad bangsa yang ragu-ragu
hatinya...hati Melayu
dan...
pada titik penghujung yang akan ada noktahnya yang lain...
aku bertepik setengah nyawa pada telinga-telinga
yang berkalam bahawa kita sebangsa:
mata yang memandang...pandanglah!!!
jangan lagi memandang...dan pura-pura buta
karya:nikaidil/HatiMati
Friday, December 4, 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)

